My Blog List

Tuesday, October 17, 2017

FAQ (Frequently Asked Question)


Ini merupakan beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan oleh calon delegasi Student Exchange Programme 2018

1.     Berapa lama program ini berlangsung?
Program ini berlangsung selama 21 hari atau 3 minggu
2.     Apakah fakultas lain boleh mendaftar program ini?
Tidak, program ini hanya untuk mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik semester 3, 5 dan 7.
3.     Dimana peserta akan tinggal selama program berlangsung?
Selama program peserta akan tinggal di Asrama Internasional University Malaya, Malaysia
4.     Apakah semua biaya ditanggung oleh fakultas?
Sayangnya untuk pertukaran oelajar tahun ini, peserta harus membayar full biaya selama kegiatan berlangsung

5.     Biaya apa saja yang harus ditanggung peserta?
Akomodasi (Passport, Tiket pesawat PP, Penginapan, Bus), Meals dan lainnya
6.     Apakah diperbolehkan untuk mencari dana sponsorship?
Kami sangat mendukung jika ada yang ingin menggunakan sponsorship
7.     Bagaimana jika selama program berlangsung berbenturan dengan program akademik fakultas/ apakah ada dispensasi?
Tenang saja, delegasi pertukaran pelajar ini mempunyai dispensasi khusus yang diberikan oleh fakultas.
8.     Apa saja aktivitas delegasi selama di University Malaya, Malaysia?
Delegasi akan mengikuti serangkaian proses pembelajaran yang telah ditentukan oleh University Malaya dan juga kegiatan belajar langsung dilapangan (Field Trip).
9.     Apakah setelah program diharuskan untuk berkontribusi pada kegiatan fakultas?
Benar, seorang delegasi wajib berkomitmen dan berperan aktif dalam organisasi alumni pertukaran palajar untuk memajukan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Saturday, October 7, 2017

Conference on Indonesia Foreign Policy


CONFERENCE ON INDONESIAN FOREIGN POLICY 2017
“WIN – WINNING ASEAN, CONQUERING GLOBALIZATION”
 Last year, FPCI successfully convened what was recognized by MURI House of Records as "the world's largest conference focusing on Indonesian Foreign Policy".  The conference was attended by around 6,000 participants from all around Indonesia and from abroad. 
We are pleased to announce that this year Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) will convene the Conference on Indonesian Foreign Policy 2017 in Jakarta on Saturday 21 October 2017. We expect this year's Conference to be as big -- if not bigger -- than last year's CIFP.  Our central theme this year is "Win-Winning ASEAN, Conquering Globalization". This theme is chosen in line with the commemoration of 50 Years of ASEAN, and to zoom on the challenge of globalization which seems to take surprising turns in recent years. CIFP is pleased to invite all stake-holders in international relations -- officials, diplomats, business people, military, researchers, public figures, lecturers, students, etc --  to attend this festival of diplomacy. CIFP will also feature outstanding speakers from Indonesia and abroad to speak in the 18 sessions of CIFP. 
To attend the conference, please register through: cifp2017.eventbrite.com

The sessions to be held are:
       1.     ASEAN at 50 : Ideas to transform ASEAN for the next 50 Years
2.     Indonesia's Maritime Fulcrum policy : A policy update on what has been done and what remains to be done
3.      A Confusing world order : Indonesia in A World of Trump, Xi Jinping , Putin, Modi and Abe:
4.     Asia’s Hot Spots : Rohingya, North Korea, Marawi
5.     Diplomacy Clinic by Indonesian and Resident Ambassadors
6.     Going ASEAN and Going Global : Pemimpin-Pemimpin Unggul Daerah Membahas Tantangan dan Strategi Merebut Peluang-Peluang di Kawasan dan Pentas Global
7.     A Discussion on Blind Spots, Stress Points, and Potential Pitfalls in Indonesian Foreign Policy
8.     Globalization Best Performers :  World’s competitive and innovative economies explain their reforms strategy
9.     Free Trade as Strategy for Globalization : Did we miss something, did others get an early start?
10.    Diplomacy Clinic by Indonesian and Resident Ambassadors
11.   ASEAN Corporate Champions : The challenge of Going ASEAN and Going Global
12.   A conversation with Indonesia's Former Foreign Ministers about world affairs
13.   Strategic Trends to Live and Die For : 5 Thinkers each outline 3 major game-changers that can potentially shape Indonesia’s future
14.   Indonesia and China’s Belt and Road Initiative : How Fast, How Soon, How Much and How Active should our engagement be? 
15.   From Youth to Youth : 5 International Young Leaders discuss critical issues of our time
16.   Assesingresident Jokowi's Foreign Policy at Mid-Term : the scorecard so far, and what to watch for in the next 2 years?
17.   A Conversation with Sri Mulyani on The Indonesia’s Engagement with G20 and the State of the World Economy
18.   The Return of the Angels : 5 Bidadari Bicara Mengenai Arti Globalisasi bagi Generasi Y
19.   ASEAN Centrality : Can ASEAN Hold Together Amidst Geopolitical Shift and Evolving Regional Architecture
20.   The South China Sea Disputes : Will ASEAN and China find convergence

About CIFP :
Conference on Indonesian Foreign Policy (CIFP) is an open, independent non-political forum which facilitates public discussions on Indonesia's relations with the world in all aspect: Geopolitics, Security, Defense, Economy, Culture, Environment, Youth, and many more.
CIFP is a festival of diplomacy that brings officials, Ambassadors, diplomats, politicians, celebrities, businessmen, public figures, military, intelligent, experts, journalists, researchers, lecturers, and students.
CIFP is a "must attend" for international relations practitioners, thinkers, and enthusiasts who wish to expand their knowledge and find new ideas. Some campuses make it mandatory for their students to attend CIFP due to its enormous educational value to the students understanding of international relations.

Venue of CIFP 2017:
The Kasablanka, Kota Kasablanka Mall 
Jl. Casablanca Raya Kav.88 Jakarta Selatan 12870 (near to The Park Lane apartment)


Thank you for your kind attention.

Salam,
Ambassador Dino Patti Djalal,
Founder of Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI),
and Team CIFP 2017

CIFP Selection Result

Berikut ini merupakan delegasi Global Partnership Association pada Conference on Indonesia Foreign Policy yang akan berlangsung di Jakarta, 21 Oktober 2017.

No
Nama
Jurusan/ Universitas
Semester
1.
M. Ikhsan
Manajemen/ UIN SGD Bandung
V (Lima)
2.
M. Luthfi N
Manajemen/ UIN SGD Bandung
V (Lima)
3.
Citra L.
Sosiologi/ UIN SGD Bandung
IX (Sembilan)
4.
Siti Juariah
Administrasi Publik/ UIN SGD Bandung
IX (Sembilan)
5.
Neneng Zakiya
Administrasi Publik/ UIN SGD Bandung
VII (Tujuh)
6.
M. Nasir
Sosiologi/ UIN SGD Bandung
V (Lima)
7.
M. Robby Rodhiya
Administrasi Publik/ UIN SGD Bandung
VII (Tujuh)
8.
Faidh Qurratu A
Manajemen/ UIN SGD Bandung
V (Lima)
9.
Safira Nuramalia
Sosiologi/ UIN SGD Bandung
VII (Tujuh)
10.
Saiful Bahri
Manajemen/ UIN SGD Bandung
V (Lima)
11.
Kelvin
Administrasi Publik/ UIN SGD Bandung
VII (Tujuh)
12.
Hafidz Raf’at Basya
Manajemen/UIN SGD Bandung
V (Lima)
13.
Putra Kurnia
Administrasi Publik/ UIN SGD Bandung
VII (Tujuh)
14.
Armi Diana
Administrasi Publik/ UIN SGD Bandung
V (Lima)
15.
Nunung
Manajemen/ UIN SGD Bandung
VII (Tujuh)
16.
Putri Ismiatul S
Administrasi Publik/ UIN SGD Bandung
V (Lima)

Conference on Indonesian Foreign Policy ( CIFP ) adalah forum terbuka, non-politik, dan independen yang memfasilitasi diskusi publik mengenai hubungan Indonesia dengan dunia internasional dalam berbagai aspek : geopolitik, geoekonomi, keamanan, pertahanan, resolusi konflik, ekonomi, budaya, lingkungan, generasi muda, dan lain – lain.



CIFP merupakan festival diplomasi yang mempertemukan pejabat, Duta besar, diplomat, politisi, selebriti, pengusaha, tokoh masyarakat, kalangan militer, intelijen, pakar, wartawan, pengamat, dosen, dan mahasiswa dan lain-lainnya.
CIFP adalah konferensi yang mutlak perlu dihadiri oleh praktisi, pemikir, dan peminat hubungan internasional yang ingin menambah wawasan dan mencari gagasan-gagasan baru. Beberapa kampus bahkan mewajibkan mahasiswa mereka untuk menghadiri CIFP karena kontribusi yang besar dalam nilai-nilai edukasi agar mahasiswa lebih memahami hubungan internasional.
Semoga nama-nama tersebut bisa mewakili Global Partnership Association, umumnya UIN SGD Bandung dengan baik. Kita semua bangga pada kalian.






Wednesday, October 4, 2017

English without Practice is Nothing

Mempunyai teman dari luar negeri itu menyenangkan. Bila berteman dengan foreigners, kita jadi bisa lebih mengenal kebudayaan dan kehidupan sehari-hari mereka secara langsung. Jadi bukan hanya tahu dari TV atau kata orang, melainkan langsung berbagi pengalaman dan membuka wawasan lebih luas. Punya teman dan guru orang korea merupakan suatu hal yang sangat luar biasa bagi saya.
Satu hari kita bisa ikut mereka makan di restoran korea, memperhatikan dan mengikuti bagaimana cara mereka menyantap bulgogi dan lain sebagainya. Di hari lain kita juga bisa ajak mereka makan di restoran Indonesia dan mengenalkan sayur asem, lalapan, pempek Palembang ,dan bagaimana caranya makan pakai tangan.
Syukur-syukur kalau teman Korea kita bisa bahasa Inggris. Lebih seru lagi kalau mereka juga bisa bahasa Indonesia. Tapi seberapa sering sih kita berjumpa dengan orang Korea yang lancar berbahasa Inggris dan Indonesia? Jarang sihh hehehehe…
Sepengetahuan saya ,tidak semua orang korea bisa berbahasa inggris apalagi berbicara bahasa Indonesia. Maka dari itu ,dengan belajar bahasa Korea aku jadi bisa lebih mengenal seseorang lebih dari sekedar menanyakan nama dan apa kabarnya. Kita jadi bisa berbagi cerita tentang kehidupan, cita-cita, hobi dan lain-lain.
Sebenarnya saya masih belum mahir untuk berbicara bahasa korea ,masih sangat jauh dari kata lancar, apalagi jago. Kalau diibaratkan seperti anak yang baru lahir terus diajarin sama orang tua nya berbicara dan masih berbata-bata. Tapi saya begitu yakin bahwa siapa saja yang masih punya semangat belajar dan berapapun usianya, maka sesungguhnya tidak ada kata terlambat bagi orang tersebut untuk mau terus belajar.
……….. Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Q.S al Hujurat : 13)
Allah swt. menyuruh kita untuk saling mengenal satu sama yang lainnya supaya kita saling mengenal. Allah swt. juga menjadikan sebagian dari kita untuk saling mengenal sebagian yang lain bukan untuk saling membanggakan ketinggian nasab atau keturunan, karena sesungguhnya kebanggaan itu hanya dinilai dari segi ketakwaan, bukan warma kulit, ras, clan, marga, kenegaraan dan lain sebagainya.
(kembali ke laptop hehehe)
Personally, saya bukanlah manusia yang menyukai K-Pop dan K-Drama. Saya hanya menyukai beberapa film korea yang hanya memiliki makna terdalam di balik film tersebut, sebut saja Pure Love, My annoying brother, Train to Busan dan lain-lain. Jadi ,semenjak awal tahun 2017 saya mulai belajar Bahasa Korea mulai dari nol ,tidak seperti teman-teman saya yang lain yang sudah punya basic bahasa korea karena sudah belajar bahasa korea secara tidak langsung dari k-pop dan k-drama itu lohh.
Itu lah budaya baru masyarakat sekarang, belajar bisa dimana saja. Dengan akses internet ataupun media televisi semuanya menjadi sangat cepat. Baik budaya dalam membentuk prilaku serta sikap masyarakat dalam membentuk budaya berbahasa yang benar (seharusnya).
Kebudayaan erat kaitannya dengan bahasa. Ada banyak perbedaan-perbedaan antara dua bahasa yang bila ditelusuri akan membawa kita kepada kebudayaan masyarakat setempat.
Dalam bahasa Korea dikenal berbagai bentuk tingkatan bahasa, menunjukkan bagaimana masyarakat di Korea menghormati orang yang lebih tua atau dituakan. Bentuk sopan santun dalam berbahasa ini mirip seperti dalam bahasa Sunda, Jawa, dan lain sebagainya.
Dalam bahasa Korea juga dikenal bermacam-macam nama panggilan untuk memanggil orang lain berdasarkan jabatan atau hubungan sosial. Memanggil orang lain dengan nama atau ‘kamu’ itu dianggap tidak sopan. Ini jauh berbeda dengan bahasa Inggris yang perbendaharaan kata untuk nama-nama panggilannya lebih sedikit (sir, mister, miss, boss, aunty, uncle, dll) karena masyarakatnya memanggil satu sama lain dengan nama. Bahkan anak pun memanggil orang tuanya dengan nama.
Pada akhirnya, apapun bahasa asing yang kamu pelajari, akan membuat hidupmu lebih kaya akan wawasan dan pengalaman. Adakah hal yang membekas dalam ingatanmu, cerita menarik yang kamu alami karena kamu mempelajari bahasa asing yang rasanya tak akan pernah terjadi kalau tidak pernah belajar bahasa asing?
Nah ,salah satu tips untuk belajar bahasa asing terutama bahasa korea ialah dengan mencari komunitas yang seragam biar bisa mraktekin apa yang udah kamu pelajari. Nggak mungkin kan ngajak orang rumah ngobrol bahasa korea? padahal keluargamu biasanya ngomong sehari-hari bahasa jawa atau curcol meneh iki doh bla bla bla hehehehe.
Nggak harus ketemuan juga sih dengan anggota komunitas secara langsung (salah satu tips), cukup gabung di jejaring sosial yang update korean news kamu udah bisa mraktekin bahasa korea mu. Thats fun!
Pas saya udah ketemu dan sharing sama anggota komunitas bahasa korea di Bandung, ada kata-kata di dalam benak tapi susah mau ungkapin, takut salah dan canggung. Pada akhirnya mulut kelu tak dapat bersuara, iya, aku ialah orang yang belum bisa bahasa Korea.
Takut ngomong, maupun ngomong belepotan. Ya gak aneh juga sih, karena emang belum pernah belajar juga sih sebenernya. Boro-boro mau ngomong ,k-pop dan k-drama aja saya ga suka khkhkhkhkhkhkh….
Jadi, pas disuruh bicara nyebutin huruf Hangeul aja awal mau bicara Korea itu canggung banget, merasa aneh gitu. Mungkin juga karena ada sedikit shock ya. Jadi butuh adaptasi banget pada awalnya.
Tapi kalau soal belajar bahasa, kamu bisa bebas sih belajar dimana saja dan bahasa yang kamu anggap penting untuk dipelajari, dan kamu juga bisa menelaah sendiri kosakata mana yang sering dipakai sehinggga bahasamu tidak kaku seperti di buku-buku. Nah ,menurut saya mungkin sih, yang terpenting meski bukan yang utama, kamu nggak harus keluar duit untuk bayar les-lesan, wkwkwk.
Oya ,biasanya kendala yang didapati oleh para orang yang belajar bahasa korea ialah terkadang kalau malas ya nggak belajar. Klau rajin yaa pasti rajin banget. Kalau saya ,kadang nggak mood berbulan-bulan bisa jadi nggak belajar, bahasa Korea itu hanya hobi yang saya lakukan kapanpun semau saya, nggak pernah ujian, nggak pernah latihan, beda banget sama anak yang emang ambil jurusan bahasa korea di universitas gitu kan.
Terakhir ,salah satu hal yang sangat perlu kita lakukan adalah practice. Bentuk latihannya juga banyak ,bisa dengan berbicara sama kaca, sama binatang peliharaan, sama hati nurani atau bagaimanapun caranya kalau memang mau serius dengan bahasa yang kamu pelajari jadi berbicara itu penting.


Atau bisa juga dengan chatting dengan teman-teman satu komunitas kamu melalui WhatApp, line dan lain sebagainya. Karena namanya belajar nonformal (otodidak) kita pasti hanya terpacu dengan media, belajar secara tertulis saja. Tapi namanya bahasa itu kan untuk komunikasi, komunikasi identik dengan latihan serta melatih bicara. Nggak bisa bicara, tamat sudah, dan nggak mampu mengungkap isi di hati hihihihi…

Malala Project

MALALA PROJECT
Aku Ikhsan, seorang mahasiswa jurusan Manajemen di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Aku pernah merasa menjadi orang yang begitu berguna bagi masyarakat ketika aku aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial. Tidak banyak memang yang bisa aku berikan, hanya saja apresiasi dari masyarakat begitu antusias, itulah yang membuat aku juga merasa sangat dihargai. Walaupun begitu aku sangat berharap kontribusi yang aku lakukan bisa bermanfaat dan memberikan dampak yang besar bagi masyarakat.
Malala Project merupakan salah satu projek sosial yang sedang aku geluti. Projek ini bergerak di bidang pendidikan, khususnya dalam meningkatkan “equality of education”. Kita ketahui bahwa di Bandung hanya 10,99 % anak yang memperoleh pendidikan layak (Sumber: Sekertaris Daerah Jawa Barat), oleh karena itu melalui projek ini kita berusaha meningkatkan kesadaran masyarakat yang ada di Bandung tentang pentingnya pendidikan bagi anak-anak. Upaya yang kita lakukan adalah dengan mengajar, memotivasi anak-anak, campaign, seminar dan direct education. Selain itu, kita juga memberikan donasi berupa buku dan sarana pendidikan ke beberapa panti asuhan anak yatim dan komunitas anak jalanan. Kita mengajar di beberapa panti asuhan daerah Kosambi, Margahayu dan Buah Batu, serta memberikan seminnar ke beberapa sekolah di Bandung, selain itu kita juga melakukan campaign di beberapa car free day di Bandung.

Malala Project ini di accompany oleh tim dari AIESEC Bandung dan dibantu oleh 9 volunteer dari luar negeri, sehingga semuanya terdiri dari 22 orang. Projek ini sudah dimulai sejak tanggal 10 Juni 2017 hingga sekarang, namun pada pertengahan Agustus kemarin kegiatan mengajar yang biasanya kita lakukan rutin setiap harinya mulai kita kurangi, hal itu dikarenakan beberapa di antara kita sudah mulai sibuk kuliah dan semua volunteer dari luar negeri pun harus kembali kenegaranya masing-masing. Namun saat ini kita juga masih masih mengamati perkembangan mereka, sehingga seminggu sekali kita masih sering kesana. Beberapa minggu kedepan kita juga akan kembali membagikan buku dan beberapa  keperluan sekolah kepada mereka.